Jumat, 13 April 2012

Kenaikan Harga Minyak Picu Inflasi Harga Makanan

Harga pangan global naik pada Maret 2012, dalam tiga bulan berturut-turut kenaikan terjadi pada harga biji-bijian dan minyak nabati. Kenaikan harga pangan dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga pangan mencapai rekor tertinggi pada bulan Februari 2011, dan memicu protes yang menghubungkannya dengan kerusuhan di sejumlah negara seperti Arab, Afrika Utara, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Harga pangan sempat turun, tetapi mulai naik lagi pada bulan Januari 2012 lalu.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), indeks yang mengukur perubahan harga bulanan untuk paket makanan seperti sereal, minyak sayur, daging susu, dan gula, rata-rata 215,9 poin pada Maret. Angka ini naik dari rata-rata sebelumnya sebesar 215,4 poin pada bulan Februari. Indeks harga sereal pada bulan Maret rata-rata 227 poin, naik jika dibandingkan bulan Februari. Harga jagung menunjukkan angka menguntungkan karena rendahnya persediaan dan kuatnya kedelai di pasaran.

"Dalam waktu dekat harga bahan pangan akan terus mengalami kenaikan," kata Analis Gandum dan Ekonom Senior FAO Abdolreza Abbassian, seperti dilansir Reuters, Kamis (5/4).

FAO juga menegaskan perkiraan sebelumnya untuk output gandum dunia turun 1,4 persen, dari rekor panen tahun lalu sebesar 690 juta metrik ton (760.590.000 ton) pada tahun 2012. Harga minyak yang tinggi telah menambah kekhawatiran inflasi sejak awal tahun ini. Harga bahan pangan untuk konsumen di 17 negara naik 2,6 persen pada Maret ini dari tahun lalu.

"Indeks harga pangan memiliki korelasi yang sangat tinggi dengan harga minyak, dan jika harga minyak naik akan sulit bagi harga pangan untuk tidak ikut naik," kata Nick Higgins, Analis Komoditas di Rabobank International.

Sebab harga energi mempengaruhi produksi pupuk, serta biaya yang berkaitan dengan distribusi makanan dan penggunaan mesin pertanian. FAO menegaskan akan menempatkan permasalahan inflasi makanan dalam agenda ekonomi.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/06/m20uqj-kenaikan-harga-minyak-picu-inflasi-harga-makanan

Senin, 02 April 2012

Orang Indonesia Kian Pendek dan Gemuk

Jakarta, Kompas - Pola konsumsi makanan yang tak berimbang menyebabkan struktur tubuh anak-anak Indonesia semakin tidak ideal. Jika tidak segera diatasi, karakter fisik manusia Indonesia ke depan adalah pendek dan gemuk.

”Tubuh pendek terkait kondisi ekonomi, sedangkan gemuk berhubungan dengan pola makan seseorang,” kata Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Minarto dalam Seminar Gizi Lebih: Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia di Jakarta, Rabu (20/4).

Data Direktori Pengembangan Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan 2009 menunjukkan, konsumsi pangan hewani masyarakat Indonesia baru mencapai 60 persen dari jumlah yang dianjurkan. Badan pendek disebabkan kurangnya asupan pangan hewani. Adapun kegemukan terjadi karena kelebihan konsumsi makanan yang mengandung minyak dan lemak serta padi-padian.

Berdasarkan penelitian Atmarita dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun rata-rata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter.

”Kurangnya konsumsi pangan hewani akan membuat kurangnya sejumlah zat gizi mikro yang menjadi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak,” kata Minarto. Konsumsi pangan hewani tidak dapat digantikan jenis bahan pangan lain. Jenis pangan ini dapat diperoleh dari daging, aneka jenis ikan, dan telur.

Kasus kegemukan meningkat

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, prevalensi kegemukan anak balita Indonesia mencapai 14 persen, dengan rincian prevalensi 14,9 persen dari keluarga kaya dan 12,4 persen dari keluarga miskin. Jumlah anak balita kegemukan meningkat karena survei serupa pada 2007 menunjukkan prevalensi anak balita kegemukan baru 12,2 persen. Kasus kegemukan paling banyak terjadi tahun 2010, yaitu di Jakarta dengan 19,6 persen.

Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan anggota Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia, Saptawati Bardosono, mengungkapkan, penumpukan lemak pada pinggang, yang biasanya dialami orang dewasa, kini semakin banyak terjadi pada anak-anak.

Selain akibat pola makan yang keliru, yaitu banyaknya konsumsi susu dan makanan manis, kegemukan juga disebabkan kurangnya aktivitas fisik karena anak terlalu banyak menonton televisi dan berkegiatan di dalam rumah yang sempit. Salah jika ada anggapan yang mengatakan bahwa anak gemuk adalah anak yang lucu dan sehat.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Rini Sekartini, menambahkan, kegemukan meningkatkan risiko penyakit terkait jantung dan pembuluh darah, diabetes, kanker, kelainan otot, serta kelainan pernapasan.

Orang Gemuk di Indonesia Meningkat 78,2 Juta Jiwa

World Health Organization (WHO) melansir persentase orang kegemukan atau overweight yang mencengangkan. Data selama 2010, di Indonesia tercatat 32,9 persen atau sekitar 78,2 juta penduduk dengan kondisi kegemukan.

Persentase tadi bisa dibandingkan dengan data obesitas WHO pada 2008 yang hanya 9,4 persen. Dengan peningkatan jumlah penduduk yang kegemukan ini, ikut mendorong peningkatan faktor risiko penyakit kronis.

Dokter spesialis nutrisi Siloam Hospitals dr Samuel Oetoro M.S. Sp.GK menuturkan, penyakit kronis yang mengikuti orang dengan kondisi badan kegemukan cukup beragam. Di antaranya yang dominan adalah, hipertensi, serangan jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Tingginya angka penduduk yang obesitas di Indonesia, menurut Samuel disebabkan beberapa faktor. Di antaranya adalah, perubahan pola hidup di masyarakat. "Sekarang mengonsumsi junk food menjadi tren. Apalagi bagi anak muda," ucap dia.

Menurut Samuel, sel yang menyusun lemak merupakan sel-sel yang tua. Jika sel-sel tua ini menumpuk di organ tertentu, makan ikut menyeret usia organ tersebut menjadi lebih tua.

"Misalnya tumpukan lemak itu di jantung. Ya usia jantungnya mengalami penuaan," terang dia. Dengan kondisi penuaan yang lebih cepat tersebut, Samuel menjelaskan fungsi organ-organ tadi juga menurun lebih cepat.

Selama menjadi pendamping pasien yang ingin bobot tubuhnya turun, Samuel mengatakan pernah merekam rekor penurunan berat badan terbesar. Waktu itu, dengan diet yang tepat dan sehat, ada pasien yang memiliki berat badan 105 kg turun menjadi 73 kg dalam tempo delapan bulan.

Bagaimana caranya? Pertama, Samuel berperan tidak sebagai dokter. "Saya tidak menganjurkan makan ini, makan itu. Atau minum obat ini, dan obat itu," tandasnya. Tapi, di awal-awal upaya penurunan berat badan, Samuel mengatakan dokter lebih bersifat sebagai motivator.

Dia menegaskan, pola pikir pasien yang ingin susut berat badannya harus dibongkar. Di antara pola pikir yang dominan membentuk kegemukan adalah, orang berpikiran jika gemuk itu sama dengan sehat. "Itu tidak tepat. Anggapan itu yang harus dibongkar dulu," katanya.

Setelah pasien mantap jika harus memiliki berat badan ideal, baru selanjutnya masuk tahap anjuran mengatur pola makan, jenis makanan, olahraga, hingga jika perlu pemberian obat-obat tertentu. Untuk urusan mengatur makanan, Samuel memiliki tiga rumus. Yaitu, 3-J. Maksudnya, jumlah tidak berlebihan, jadwal tetap tiga kali sehari, dan jenis makanan yang tepat. Di antaranya, menggunakan beras merah atau roti gandum.

Samuel mengingatkan, membentuk tubuh kembali ramping cukup penting. Tapi, yang perlu ditekankan adalah tubuh ramping yang sehat. Jika tubuh ramping tetapi penyakitan, menurutnya adalah kegagalan upaya penurunan berat badan.

Untuk bisa ramping sekaligus sehat, Samuel menganjurkan untuk tetap rutin berolahraga. Seperti berjalan atau berlari. Jika berat badan sangat berlebihan, Samuel menganjurkan untuk olahraga bersepeda.

"Jika sangat gemuk memilih jalan kaki atau berlari, kasihan lututnya. Sebab harus menanggung tumpuan berat badan," pungkasnya. Samuel berharap, angka obesitas di negeri ini bisa menurun.

Sumber : http://forum.kompas.com/kesehatan/58150-makanan-sehat-tanpa-lemak-bakalan-nge-tren-di-2012-a.html 

Senin, 19 Maret 2012

BBM Naik, Waspadai Kenaikan Harga Pangan

Martin Bagya Kertiyasa - Okezone

Pemerintah harus mengontrol kenaikan harga barang di pasar, khususnya bahan pangan, demi mengantisipasi kenaikan inflasi yang pasti akan membludak dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, memprediksikan prediksi kenaikan inflasi karena naiknya harga BBM bersubsidi juga tarif dasar listrik bisa mencapai 1,5-2 persen. Oleh sebab itu inflasi mungkin ada di angka 6-7 persen pada tahun ini. Jauh dari target pemerintah di kisaran 3,5-5,5 persen untuk 2012.

"Cuma saya agak sedikit (atau) tidak terlalu khawatir (dengan kenaikan harga BBM karena) mestinya pemerintah harus punya resep atau cara-cara untuk dapat menangkal kenaikan di pasar (agar) tidak liar. Karena yang susah dikontrol adalah kenaikan harga barang di tingkat konsumen," ujar di Bogor, kemarin.

Menurut Ryan, pemerintah harus teliti dalam mengamati bagaimana perkembangan harga di tingkat konsumen di pasar-pasar. Perhatian lebih harus diberikan kepada sembilan bahan pokok dan bahan pangan khususnya cabai. Apalagi ditengah cuaca ekstreem yang sedang melanda saat ini.

"Sembako adalah kontributor utama inflasi terutama beras, ikan asin. (dan) cabai adalah komponen inflationary (inflasi) yang paling tinggi. Jadi kalau ini nggak bisa dijaga bahaya," tambahnya.

Karenannya dia menilai operasi pasar harus dilakukan untuk stabilisasi harga karena dampak inflationary-nya di tingkat konsumen itu pasti tinggi. "Kan distribusi barang dari produsen, grosir, grosir kecil sampai retailer. Nah sampai ke retailer itu terjadi eksponensial kenaikan kan. Nah itu yang berbahaya," pungkas Ryan.

sumber : http://economy.okezone.com/read/2012/03/11/19/591002/bbm-naik-waspadai-kenaikan-harga-pangan